12 Januari 2012

Gundah Ku

Adakalanya kita merasa sangat sangat jenuh. Mungkin bosan dengan rutinitas atau mungkin juga kita khawatir dengan masa depan. Jelas aku sedang merasa jenuh dengan kehidupanku saat ini. Kadang serasa ini bekaitan dengan sifat kurang bersyukur. Bermula dari saat aku sembuh dari sakit gejala tipes. Sakit tersebut membuat aku tidak masuk kerja sampai satu minggu lamanya.

Tiba tiba saja aku merasa bingung. Sebenarnya untuk apa aku bekerja, untuk siapa aku mencari uang. Aku lalu jadi teringat ibuku yang tersayang. Ketika bersama pasangan kita dituntut harus bisa pengertian dan harus bisa menjaga sikap egois kita. Tapi dirumah kita memiliki seseorang yang sangat mengerti secara tulus. Dia tidak minta untuk dimengerti. Selalu mendukung kita disaat seluruh dunia mnyalahkan kita. Oh ibu sesungguhnya aku belum memberikan apa apa kepadamu. Belum bisa membuatmu bangga. Yang aku bisa hanya menyusahkanmu ibu. Apa jadinya kalau tiba saatnya dirimu meninggalkan aku. Dengan siapa aku menggantungkan perasaan aku untuk berkeluh kesah. Oh ibu aku masih membutuhkan kamu. Hiduplah untukku seribu tahun lagi. Aku perlu kamu untuk mendoakan aku selalu.

Ayah dan ibu adalah dua orang yang selalu aku rindukan. Ayah dah ibu yang selalu ada untukku. Mereka selalu bisa untuk aku andalkan. Kapan dan dimana mereka dengan sisa sisa tenaganya selalu dan selalu ada jika aku membutuhkan. Saat ini aku galau karena merindukan mereka. Aku ingin segera pulang untuk melihat mereka. Memuaskan rasa kangenku yang tak berkesudahan. Biarlah kau bilang aku tak dewasa. Aku tak peduli kau istilahkan aku “anak mami”. Aku hanya tak bisa hidup tanpa mereka. Maafkan aku ayah aku terkadang menyepelekan dirimu. Maafkan aku ibu karena aku sering tidak menurut padamu. Aku sering merasa berkuasa dirumah. Aku sesungguhnya tak mengerti dan tak sadar dimana letak surga itu sebenarnya.

Ibu terima kasih untuk setiap bekal makanan yang kau sediakan untukku setiap pagi. Ayah terima kasih untuk semua perjuangan hidupmu sehingga aku bisa seperti ini. Bahkan ketika dirimu sudah tidak bisa lagi memberikan uang untuk keluarga kau tetap mendukung kita dengan doamu yang lama dan tulus. Takkan habis rasa banggaku memiliki dirimu ayah. Kau ada contoh figur seorang ayah untuk seluruh dunia. Katakan padaku apa yang bisa kulakukan untuk mu. Katakan padaku apa makanan kesukaanmu ayah. Maafkan aku yang selama ini masih saja bersikap pelit. Seluruh keringatmu yang membuat aku seperti ini. Maafkan aku yang tak berguna ini. Yang aku tahu hanya menghambur hamburkan uang tak berguna. Terima kasih ayah atas didikanmu selama ini.

Ibu aku ingin segera pulang. Aku ingin segera menemui dirimu. Menghempaskan seluruh beban hidupku padamu. Aku kangen padamu ibu. Kasihmu yang tulus takkan terbayar ibu. Jangan tinggalkan aku ibu. Tetaplah hidup dengan sehat selamanya. Jangan pernah sakit ataupun merasa sakit. Aku ingin segera pulang untuk menemui dirimu ibu.


Read More - Gundah Ku

20 Agustus 2011

Masuk Angin


Ini perut gw masuk angin.. Aneh banget karena anginnya itu bukan di saluran pencernaan. Gw rasa nih anginnya ada di rongga perut. Nyelip antara paru2 kiri sama lambung. Rasanya sakit klo tarik napas.

Klo misalnya anginnya ada di saluran pencernaan justru lebih gampang sembuhnya. Tinggal diusahain keluar lewat atas atau keluar lewat bawah (kentut). Rasanya sangat2 ga nyaman banget. Udah pake minyak kayu putih sih tadi pagi. Tapi keknya ga ngepek banget nih.. Perlu banget rebahan sebentar dikasur yang empuk trus di kerokin.

Sampai saat ini gw belom pernah dikerokin. Mungkin sekali2 harus coba buat kasus yang kaya gini.
Read More - Masuk Angin

19 Agustus 2011

Tidak Mampu Puasa Tapi Tidak Mampu Fidyah


Pertanyaan:

Ada wanita tua yang belum menikah dan sangat miskin. Suatu ketika, dia sedang sakit keras. Bolehkan dia tidak berpuasa, sementara dia tidak mampu membayar fidyah?

Jawaban:

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulilllah.

Jika sakit wanita ini hanya sementara maka dia wajib meng-qadha di hari yang lain, setelah sembuh. Berdasarkan firman Allah,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّة مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Siapa saja di antara kalian yang sakit atau bersafar, kemudian dia berbuka, maka hendaknya dia mengganti di hari yang lain sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.” (Q.s. Al-Baqarah:184)

Namun, jika sakitnya menahun (tidak ada harapan sembuh) maka dia wajib membayar fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin. Jika tidak mampu dan ada orang lain yang menanggung fidyahnya maka hukum fidyahnya sah, karena menggantikan orang lain dalam urusan harta itu diperbolehkan.

Jika tidak ada orang yang menggantikannya dalam membayarkan fidyahnya maka kewajiban ini tidak gugur dan tetap menjadi tanggungannya, sampai dia mampu membayar. Jika dia sampai meninggal namun dia belum mampu membayar fidyah maka tidak ada tanggungan apa pun baginya. Sebagaimana yang Allah firmankan,

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Q.s. Al-Baqarah:286)

Allah juga berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya.” (Q.s. Ath-Thalaq:7)

Allahu a’lam.


Sumber: http://konsultasisyariah.com/tidak-mampu-bayar-fidyah

Read More - Tidak Mampu Puasa Tapi Tidak Mampu Fidyah

11 Agustus 2011

Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal

Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratul maut.



Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala nitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah
kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru
sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan
kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.


Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

Sumber: http://terselubung.blogspot.com/2010/08/kisah-nabi-muhammad-saw-menjelang-ajal.html
Read More - Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal